JAKARTA - Kenaikan harga kebutuhan pokok di Bangkalan memicu antrean panjang warga yang didominasi ibu-ibu pada pelaksanaan pasar murah untuk mendapatkan harga lebih terjangkau.
Lonjakan harga komoditas pangan ini menjadi perhatian serius masyarakat setempat karena berdampak langsung pada biaya belanja rumah tangga yang terus meningkat secara signifikan belakangan ini.
Sejumlah bahan kebutuhan pokok mengalami fluktuasi harga yang cukup tinggi sehingga kehadiran pasar murah dianggap sebagai solusi penyelamat bagi masyarakat menengah ke bawah saat ini.
Laporan pemantauan harga pasar pada Jumat 27 Februari 2026 menunjukkan bahwa harga cabai rawit tetap bertahan pada level tinggi yang cukup menyulitkan para konsumen di pasar tradisional.
Daftar Harga Terbaru Komoditas Sembako Di Wilayah Pasar Bangkalan Madura
Berdasarkan data lapangan, harga cabai rawit saat ini menyentuh angka 10000 per ons, sebuah nominal yang membuat para ibu rumah tangga harus memutar otak lebih keras lagi.
Selain cabai, beberapa bahan pokok lainnya juga mengalami penyesuaian harga yang bervariasi mengikuti ketersediaan stok di tingkat distributor maupun petani lokal di sekitar wilayah Madura tersebut.
Masyarakat kini sangat bergantung pada kebijakan pemerintah daerah dalam mengontrol stabilitas harga agar tidak terjadi lonjakan yang lebih liar lagi menjelang hari-hari besar keagamaan mendatang.
Antrean Panjang Ibu-Ibu Memburu Sembako Murah Di Gerai Pemerintah Daerah
Pasar murah yang diselenggarakan oleh dinas terkait langsung diserbu oleh ratusan emak-emak yang rela mengantre sejak pagi hari demi mendapatkan paket sembako dengan harga subsidi.
Selisih harga yang cukup lumayan dibandingkan dengan harga pasar konvensional menjadi daya tarik utama yang membuat program pasar murah ini selalu habis terjual dalam waktu singkat.
Ibu-ibu di Bangkalan mengaku sangat terbantu dengan adanya program ini karena mereka bisa menghemat pengeluaran harian yang kian membengkak akibat kenaikan harga pangan di pasaran saat ini.
Faktor Penyebab Kenaikan Harga Cabai Rawit Dan Sembako Di Jawa Timur
Fluktuasi cuaca yang tidak menentu diduga menjadi salah satu penyebab utama terganggunya rantai pasok cabai rawit dari tingkat petani sehingga stok di pasar tradisional menjadi berkurang.
Keterbatasan pasokan ini secara otomatis memicu hukum pasar yang berujung pada kenaikan harga jual di tingkat pengecer hingga menyentuh angka 10000 per ons bagi para konsumen akhir.
Selain faktor cuaca, biaya logistik yang mengalami kenaikan juga turut memberikan andil terhadap penetapan harga sembako lainnya yang didatangkan dari luar wilayah Kabupaten Bangkalan secara rutin harian.
Upaya Pemerintah Bangkalan Dalam Menjaga Stabilitas Daya Beli Masyarakat Luas
Pemerintah Kabupaten Bangkalan terus melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan distribusi sembako tetap berjalan lancar dan tidak ada penimbunan barang oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Pelaksanaan pasar murah akan terus dilakukan secara berkala di berbagai titik strategis guna menjangkau lebih banyak warga yang membutuhkan bantuan intervensi harga dari pemerintah daerah setempat saat ini.
Langkah ini diambil sebagai bentuk kehadiran negara dalam melindungi daya beli masyarakat di tengah situasi ketidakpastian harga pangan global yang juga berdampak ke tingkat lokal di Jawa Timur.
Harapan Konsumen Terhadap Normalisasi Harga Kebutuhan Pokok Di Masa Depan
Warga Bangkalan sangat berharap agar harga cabai rawit dan sembako lainnya dapat segera kembali ke angka normal sehingga mereka bisa memenuhi kebutuhan gizi keluarga secara lebih layak.
Normalisasi harga dianggap sangat penting agar ekonomi tingkat rumah tangga dapat kembali stabil dan daya beli masyarakat terhadap komoditas lain di pasar tradisional tetap terjaga dengan sangat baik.
Monitoring harga akan terus diperketat oleh Satgas Pangan guna memastikan bahwa harga yang sampai ke tangan konsumen masih berada dalam batas kewajaran yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat.