PLTA

Kontribusi PLTA Ir Pangeran Mohammad Noor bagi Kelistrikan Kalimantan

Kontribusi PLTA Ir Pangeran Mohammad Noor bagi Kelistrikan Kalimantan
Kontribusi PLTA Ir Pangeran Mohammad Noor bagi Kelistrikan Kalimantan

JAKARTA - Jejak pembangunan kelistrikan di Kalimantan tidak bisa dilepaskan dari keberadaan PLTA Ir. Pangeran Mohammad Noor. 

Pembangkit listrik tenaga air pertama di Pulau Kalimantan ini menjadi tonggak penting dalam sejarah penyediaan energi di wilayah tersebut. Berlokasi di Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, PLTA ini telah beroperasi sejak diresmikan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto pada 1973.

Sebelum dikenal dengan nama PLTA Ir. Pangeran Mohammad Noor, pembangkit ini awalnya bernama PLTA Riam Kanan. Nama tersebut kemudian diubah pada 1980 sebagai bentuk penghargaan kepada Ir. Pangeran Mohammad Noor atas jasanya dalam mengembangkan kelistrikan di Kalimantan Selatan.

Ir. Pangeran Mohammad Noor sendiri merupakan Gubernur Kalimantan pertama yang menjabat pada 1945–1950. Ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum pada masa Presiden Soekarno periode 1956–1959. Saat menjabat sebagai Menteri PU, ia mengembangkan berbagai proyek kelistrikan di Indonesia. 

Atas kontribusinya dalam pembangunan sejak awal kemerdekaan, ia dianugerahi Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera pada 1973. Kemudian pada 2018, ia resmi menyandang gelar Pahlawan Nasional.

Cikal Bakal dan Proses Pembangunan

Meski baru diresmikan pada 1973, gagasan pembangunan PLTA ini sudah dicanangkan sejak 1958. Namun, proses realisasinya sempat tertunda akibat peristiwa G30S/PKI. Pembangunan baru benar-benar dimulai pada 1963 setelah situasi memungkinkan.

Sepuluh tahun kemudian, PLTA dan waduk pertama di Kalimantan akhirnya resmi berdiri. Proses pembangunan tersebut tidak sepenuhnya berjalan mulus. Dalam pengerjaannya, tercatat ada beberapa pekerja proyek yang mengalami kecelakaan kerja.

Selain itu, pembangunan waduk mengharuskan sekitar delapan desa ditenggelamkan demi mewujudkan infrastruktur yang ramah lingkungan ini. Masyarakat dari desa-desa terdampak kemudian direlokasi ke sejumlah desa lain di sekitarnya.

Saat peresmian berlangsung, Ibu Tien Soeharto turut melepaskan bibit-bibit ikan di Waduk Riam Kanan. Presiden Soeharto juga memberikan penghargaan kepada beberapa karyawan yang mengalami kecelakaan saat bekerja di proyek tersebut.

Sumber Energi dari Waduk Riam Kanan

PLTA Ir. Pangeran Mohammad Noor memanfaatkan air dari Waduk Ir. H. Pangeran Noor atau yang dikenal juga sebagai Waduk Riam Kanan. Waduk ini termasuk salah satu yang terbesar di Kalimantan.

Waduk tersebut mampu menampung air dari delapan sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus. Dengan luas mencapai 9.730 hektare, waduk ini menjadi sumber utama penggerak turbin pembangkit listrik.

PLTA ini beroperasi dengan tiga turbin yang memiliki kapasitas total 30 megawatt (MW). Energi listrik yang dihasilkan turut menopang kebutuhan listrik di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan, termasuk Barito, Banjar, dan Banjarmasin.

Kontribusi terhadap Pasokan Listrik dan Irigasi

Keberadaan PLTA ini memberikan kontribusi signifikan terhadap sistem kelistrikan regional. Setidaknya 8 persen dari total kebutuhan listrik di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan dipasok dari pembangkit ini.

Selain untuk pembangkitan listrik, waduk juga berperan dalam mengaliri saluran irigasi pertanian. Air yang ditampung tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber energi, tetapi juga untuk mendukung produktivitas sektor pertanian di wilayah sekitar.

Di sisi lain, waduk ini turut berfungsi sebagai pengendali banjir. Dengan kapasitas tampung yang besar, aliran air dapat diatur untuk meminimalkan risiko banjir di kawasan sekitar Waduk Ir. Pangeran Mohammad Noor.

Destinasi Wisata dan Aktivitas Perikanan

Selain berfungsi sebagai infrastruktur energi, kawasan waduk juga berkembang menjadi destinasi wisata. Berdasarkan informasi dari Dinas Pariwisata Kabupaten Banjar, Waduk Ir. Pangeran Mohammad Noor menyediakan berbagai wahana bermain, salah satunya Alimpung Park.

Terdapat pula restoran terapung yang menawarkan beragam sajian bagi para pengunjung. Keindahan alam sekitar waduk menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana perairan dengan latar pegunungan.

Menariknya, waduk ini juga menjadi lokasi budidaya berbagai jenis ikan. Aktivitas perikanan tersebut dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai salah satu tempat memancing. Kehadiran waduk tidak hanya mendukung sektor energi dan pertanian, tetapi juga membuka peluang ekonomi di bidang pariwisata dan perikanan.

Sebagai PLTA pertama di Kalimantan, keberadaan PLTA Ir. Pangeran Mohammad Noor mencerminkan perjalanan panjang pembangunan infrastruktur energi di wilayah tersebut. 

Dari gagasan awal pada 1958, tertunda akibat dinamika politik nasional, hingga akhirnya berdiri kokoh pada 1973, pembangkit ini menjadi bagian penting dalam sejarah kelistrikan Kalimantan.

Dengan kapasitas 30 MW dan dukungan waduk seluas 9.730 hektare, pembangkit ini terus berperan dalam memasok listrik, mendukung irigasi, mengendalikan banjir, sekaligus menjadi destinasi wisata. 

Kontribusinya tidak hanya terasa dalam sektor energi, tetapi juga dalam aspek sosial dan ekonomi masyarakat sekitar.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index