JAKARTA - Upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada keterlibatan sektor swasta yang beroperasi di tengah masyarakat.
Pendekatan inilah yang dijalankan PT Hero Global Investment Tbk (HGII) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (CSR) di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) Desa Manalu Dolok, Kecamatan Parmonangan, Kabupaten Tapanuli Utara.
Melalui inisiatif CSR 2026 bertema “Harmoni Air dan Kehidupan”, perusahaan berupaya memperkuat kapasitas petani dengan dukungan sarana produksi pertanian (saprotan). Program ini dilaksanakan sejak Desember 2025 dan berlanjut hingga monitoring kuartal I-2026.
Fokus utamanya adalah membantu petani di dusun sekitar PLTM agar mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Dukungan Saprotan untuk Produktivitas Lahan
Program CSR tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas petani dalam rangka mendukung ketahanan pangan nasional. Dukungan saprotan diberikan dalam bentuk bibit unggul, pupuk organik cair, serta berbagai sarana budidaya tanaman pangan, khususnya padi.
Bantuan ini bertujuan meningkatkan produktivitas lahan dan kualitas hasil panen. Selain itu, program juga mendorong kesejahteraan petani pelestari yang hidup berdampingan dengan sumber daya air. Keberadaan petani yang menjaga kelestarian lingkungan menjadi bagian penting dalam memastikan aliran sungai tetap stabil untuk mendukung operasional PLTM Parmonangan-1 dan PLTM Parmonangan-2.
Secara keseluruhan, program ini menjangkau sekitar 100 hektare area produktif dengan melibatkan 94 Kepala Keluarga (KK) sebagai penerima manfaat. Penyaluran saprotan dilakukan langsung kepada para petani melalui koordinasi bersama perangkat desa setempat secara transparan, sesuai kebutuhan menghadapi musim tanam.
Dorong Kesejahteraan Tanpa Ganggu Ekosistem
Direktur Utama HGII, Robin Sunyoto, menegaskan bahwa sektor pertanian memiliki peran penting dalam menopang ketahanan pangan nasional, terutama di wilayah sekitar operasional PLTM.
Menurutnya, dengan ketahanan pangan yang kuat, masyarakat desa dapat mencapai kesejahteraan tanpa perlu mengganggu ekosistem hutan yang menjadi sumber aliran sungai untuk menggerakkan pembangkit listrik.
"HGII berfokus pada pengembangan bisnis energi terbarukan disertai program-program CSR yang memastikan pemanfaatan energi air berjalan seiring dengan upaya menjaga alam dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Kami percaya, keberlanjutan bisnis harus berjalan beriringan dengan kesejahteraan sosial," tegas dia.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pendekatan bisnis dan sosial harus berjalan selaras. Energi terbarukan yang bersumber dari air hanya dapat beroperasi optimal jika ekosistem hutan dan sungai tetap terjaga.
Implementasi Prinsip ESG dalam Program CSR
HGII menyatakan terus memperkuat implementasi program CSR berdasarkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Pendekatan ini menjadi bagian dari komitmen perseroan dalam menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Program pemberdayaan petani melalui saprotan mencerminkan integrasi antara aspek lingkungan dan sosial. Dari sisi lingkungan, dukungan pertanian berkelanjutan membantu menjaga tutupan lahan dan mencegah degradasi hutan. Dari sisi sosial, peningkatan produktivitas berdampak langsung pada pendapatan petani.
Dengan orientasi pemberdayaan, CSR tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, melainkan investasi sosial yang berkelanjutan. HGII menempatkan masyarakat sekitar sebagai mitra strategis dalam menjaga keberlangsungan operasional pembangkit listrik tenaga minihidro.
Kolaborasi untuk Ketahanan Pangan Nasional
Target ketahanan pangan membutuhkan peran serta semua pihak agar dapat berjalan dan tercapai sesuai arahan pemerintah. Kolaborasi antara perusahaan, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi kunci agar program berjalan efektif.
Melalui dukungan saprotan yang tepat sasaran, petani di Desa Manalu Dolok diharapkan mampu meningkatkan hasil panen sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Model kolaborasi ini menunjukkan bahwa pengembangan energi terbarukan dapat berjalan berdampingan dengan penguatan sektor pertanian.
Program “Harmoni Air dan Kehidupan” menjadi contoh bahwa ketahanan pangan dan keberlanjutan energi tidak harus dipandang sebagai dua hal yang terpisah. Keduanya justru saling mendukung ketika dikelola dengan pendekatan yang terintegrasi.
Dengan cakupan 100 hektare lahan dan 94 KK penerima manfaat, program ini diharapkan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Pada saat yang sama, keberlanjutan sumber daya air tetap terjaga demi mendukung operasional PLTM.
Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa sektor swasta memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Melalui pemberdayaan petani dan penguatan kapasitas produksi, cita-cita kemandirian pangan dapat semakin mendekati kenyataan.