JAKARTA - Dunia akademik tidak hanya berkutat pada teori di dalam ruang kelas, namun juga memiliki tanggung jawab moral untuk hadir di tengah kesulitan masyarakat. Semangat inilah yang ditunjukkan oleh civitas akademika Universitas Samudra (Unsam) Langsa dalam merespons dampak jangka panjang bencana banjir yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang. Melalui aksi nyata di lapangan, para pendidik ini berupaya memastikan bahwa proses pemulihan warga terdampak berjalan lebih manusiawi dan terarah.
Pada Selasa, 17 Februari 2026, sebuah gerakan sosial bertajuk Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Tanggap Darurat Bencana menyambangi Desa Sapta Marga, Kecamatan Manyak Payed. Fokus utama dari aksi ini adalah penyaluran bantuan logistik berupa kasur dan perlengkapan tidur. Langkah ini diambil sebagai respons atas kondisi warga yang kehilangan harta benda akibat terjangan banjir bandang pada akhir tahun 2025 lalu.
Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi Melalui Aksi Kemanusiaan
Bantuan yang didistribusikan kepada warga Sapta Marga bukan sekadar pemberian materi, melainkan wujud nyata dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dosen Universitas Samudra, Zulhilmi, SPd, MSi, menjadi motor penggerak dalam kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis untuk menjadi garda terdepan dalam penguatan kapasitas masyarakat, terutama saat menghadapi situasi darurat pascabencana.
Distribusi logistik tersebut menjadi simbol kepedulian perguruan tinggi terhadap masyarakat terdampak. Sekaligus wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat. Dengan melibatkan mahasiswa secara langsung, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran lapangan mengenai empati sosial dan manajemen krisis.
Upaya pemulihan ekonomi masyarakat pasca bencana banjir di Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang terus digencarkan melalui berbagai program tanggap darurat bencana. Kehadiran akademisi di tengah warga diharapkan mampu memberikan dorongan psikologis bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi masa-masa sulit pasca kehilangan tempat tinggal dan harta benda.
Dampak Banjir Bandang dan Urgensi Pemenuhan Kebutuhan Dasar
Desa Sapta Marga merupakan salah satu wilayah yang mengalami dampak cukup parah akibat luapan air pada akhir 2025. Kerugian materi yang dialami masyarakat sangat besar, mulai dari kerusakan bangunan hingga hilangnya peralatan rumah tangga yang krusial untuk kehidupan sehari-hari.
Banyak rumah warga di sana yang terendam, perabotan rusak, dan perlengkapan tidur tidak lagi layak digunakan. Kondisi ini berdampak langsung pada kesehatan, kenyamanan, dan produktivitas masyarakat. Tanpa perlengkapan tidur yang memadai, risiko penyakit menular dan gangguan kesehatan fisik menjadi ancaman nyata bagi para penyintas, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Melihat situasi itu, Zulhilmi bersama mahasiswa Universitas Samudra, berinisiatif menyalurkan bantuan berupa kasur dan perlengkapan tidur lain, seperti kelambu bantal. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban warga, sekaligus mendukung pemulihan ekonomi keluarga dengan memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi. Fokus pada "perlengkapan tidur" dipilih karena sering kali bantuan logistik lebih banyak terfokus pada makanan, sementara aspek istirahat yang berkualitas cenderung terabaikan.
Membangun Kembali Produktivitas Melalui Kualitas Istirahat
Aspek kesehatan fisik dan mental menjadi landasan utama mengapa bantuan kasur menjadi prioritas dalam program PKM kali ini. Tidur yang berkualitas dianggap sebagai modal dasar bagi warga untuk bisa bangkit kembali dan mulai bekerja demi memulihkan ekonomi keluarga mereka yang sempat terhenti akibat bencana.
Kasur dan perlengkapan tidur bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga menyangkut kesehatan fisik dan mental masyarakat. "Dengan tidur yang layak, warga bisa kembali beraktivitas secara normal, termasuk bekerja dan menggerakkan roda ekonomi keluarga,” ujar Zulhilmi.
Melalui bantuan ini, diharapkan warga Desa Sapta Marga dapat memulihkan stamina mereka setelah seharian berbenah pascabencana. Ketersediaan perlengkapan tidur yang bersih dan layak juga menjadi langkah preventif terhadap serangan penyakit pascabanjir yang sering kali muncul akibat lingkungan yang lembap dan kotor.
Harapan Baru Melalui Kolaborasi Akademisi dan Masyarakat
Dosen pengampu kegiatan ini menambahkan bahwa PKM Tanggap Darurat Bencana menjadi wadah penting bagi mahasiswa dan dosen untuk berkontribusi langsung dalam penanganan krisis. Pengalaman ini memberikan perspektif baru bagi para mahasiswa tentang bagaimana ilmu pengetahuan harus diabdikan untuk kemaslahatan umat, khususnya dalam situasi yang menuntut aksi cepat dan tepat.
Seiring dengan bantuan dari Unsam, kolaborasi pemerintah daerah dan lembaga terkait seperti BNPB juga terus berjalan di wilayah Aceh lainnya. Sebagai catatan tambahan, di wilayah lain seperti Gayo Lues, BNPB bersama Pemkab setempat telah menyerahkan 133 unit hunian sementara (huntara) di Dusun Rigeb. Huntara tersebut juga telah dilengkapi kebutuhan dasar seperti sembako, toilet, air bersih, listrik, kipas angin, dan matras.
Sinergi antara berbagai elemen—baik dari akademisi, pemerintah, maupun relawan—menjadi kunci utama dalam memulihkan Aceh dari dampak bencana hidrometeorologi. Melalui aksi distribusi logistik di Desa Sapta Marga ini, Universitas Samudra membuktikan bahwa kepedulian yang nyata adalah langkah awal untuk memberikan harapan baru bagi warga guna bangkit dan menyongsong hari esok yang lebih baik.