Kinerja Logistik Nasional 2026: Arus Petikemas IPC TPK Tumbuh Agresif

Minggu, 15 Februari 2026 | 09:40:55 WIB
Kinerja Logistik Nasional 2026: Arus Petikemas IPC TPK Tumbuh Agresif

JAKARTA - Geliat aktivitas perdagangan di awal tahun 2026 menunjukkan sinyal positif bagi perekonomian nasional. PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) berhasil mencatatkan rapor hijau pada performa operasionalnya di bulan pertama tahun ini. Lonjakan volume bongkar muat petikemas menjadi indikator kuat bahwa arus distribusi barang, baik untuk pasar domestik maupun ekspor-impor, sedang berada dalam tren peningkatan yang stabil.

Keberhasilan ini tidak lepas dari transformasi layanan kepelabuhanan yang lebih terintegrasi. Dengan meningkatnya efisiensi di berbagai titik terminal, IPC TPK memposisikan diri sebagai penggerak utama dalam menjaga kelancaran rantai pasok nasional di tengah dinamika ekonomi global yang kian menantang.

Akselerasi Volume dan Resiliensi Perdagangan Awal Tahun

Hingga penutupan Januari 2026, IPC TPK melaporkan total arus petikemas menyentuh angka 299.891 TEUs. Jika dibandingkan dengan perolehan pada periode yang sama di tahun 2025 yang sebesar 280.743 TEUs, terdapat kenaikan signifikan mencapai 6,82 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini menunjukkan bahwa mesin logistik Indonesia tetap "panas" dan bergairah sejak hari pertama pergantian tahun.

Pertumbuhan ini terlihat merata pada segmen internasional dan domestik. Hal ini menandakan bahwa daya beli masyarakat serta aktivitas manufaktur dalam negeri mulai menguat. Kenaikan volume ini sekaligus menjadi bukti bahwa strategi operasional yang diterapkan perseroan mampu merespons kebutuhan pasar dengan sangat baik.

Strategi Operasional dan Transformasi Layanan Pelindo

Capaian impresif ini dinilai sebagai buah dari optimisme kolektif para pelaku usaha dan ketajaman strategi yang dijalankan oleh manajemen. Corporate Secretary IPC TPK, Pramestie Wulandary, menyatakan bahwa hasil tersebut merupakan cerminan dari kesiapan infrastruktur dan layanan dalam menghadapi pertumbuhan arus barang.

“Pertumbuhan ini mencerminkan optimisme pelaku usaha dan efektivitas strategi operasional kami dalam merespons dinamika perdagangan yang terus menguat. Capaian ini juga selaras dengan arah transformasi Pelindo dalam menciptakan layanan kepelabuhanan yang terintegrasi dan berdaya saing global,” tutur Pramestie dalam keterangan tertulisnya.

Langkah integrasi layanan ini merupakan bagian dari visi besar grup Pelindo untuk menurunkan biaya logistik nasional dan meningkatkan daya saing pelabuhan Indonesia di mata internasional. Fokus pada efektivitas bongkar muat menjadi kunci agar waktu sandar kapal (dwelling time) dapat ditekan seminimal mungkin.

Performa Gemilang Area Panjang dan Tanjung Priok

Menelisik lebih dalam secara kewilayahan, Area Panjang di Lampung muncul sebagai primadona dengan pertumbuhan paling pesat. Wilayah ini mencatatkan kenaikan arus petikemas hingga 16 persen secara tahunan. Tingginya angka di Area Panjang menunjukkan aktivitas komoditas unggulan daerah yang semakin aktif masuk ke pasar global dan antarpulau.

Tidak ketinggalan, hub utama di Jakarta juga menunjukkan tren positif. Area Tanjung Priok 1 berhasil tumbuh sebesar 10,2 persen yoy, sementara Area Tanjung Priok 2 menyusul dengan kenaikan 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan di area-area strategis ini dipicu oleh penguatan keandalan layanan dan produktivitas terminal yang terus ditingkatkan secara berkelanjutan.

Manajemen menegaskan bahwa kolaborasi erat dengan para pemangku kepentingan, mulai dari pemilik barang hingga agen pelayaran, menjadi faktor krusial di balik lancarnya arus logistik di wilayah operasional utama mereka.

Dukungan Sektor Nonmigas Terhadap Kinerja Makro

Peningkatan arus petikemas di IPC TPK berbanding lurus dengan data makroekonomi yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Sepanjang tahun 2025, nilai ekspor Indonesia mencapai angka fantastis sebesar 282,91 miliar dolar AS, atau tumbuh 6,15 persen secara tahunan. Sektor nonmigas, khususnya industri pengolahan, tetap menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi mencapai 227,1 miliar dolar AS, melonjak 14,47 persen yoy.

Selain industri pengolahan, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan juga mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 21,01 persen dengan nilai 6,88 miliar dolar AS. Di sisi lain, sektor pertambangan harus menghadapi realitas kontraksi sebesar 23 persen menjadi 35,86 miliar dolar AS. Pergeseran kontribusi ini menunjukkan adanya diversifikasi ekspor yang semakin sehat bagi ekonomi Indonesia.

Komitmen Digitalisasi dan Penguatan Pengalaman Pelanggan

Menyongsong bulan-bulan berikutnya di tahun 2026, IPC TPK berkomitmen untuk tidak sekadar mempertahankan angka, melainkan terus memperkuat operational excellence. Penguatan aspek digitalisasi layanan menjadi prioritas utama guna memastikan setiap proses administrasi dan operasional di pelabuhan berjalan lebih transparan dan cepat.

Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan customer experience secara keseluruhan. Dengan sistem digital yang mumpuni, para pengguna jasa dapat memantau pergerakan petikemas mereka dengan lebih akurat, yang pada akhirnya akan mendukung efisiensi biaya operasional bagi para pelaku usaha.

"IPC TPK terus berupaya menjaga momentum tersebut di awal 2026. Kami fokus memastikan layanan terminal siap memfasilitasi kenaikan volume perdagangan, memperkuat kolaborasi dengan stakeholder, serta mendukung integrasi layanan kepelabuhanan nasional demi menjaga efisiensi rantai pasok,” pungkas Pramestie.

Dengan fondasi yang kuat di awal tahun ini, IPC TPK optimis mampu menghadapi tantangan perdagangan ke depan sekaligus berkontribusi nyata dalam memperkokoh ketahanan ekonomi nasional melalui jalur logistik laut.

Terkini